Umar bin Abdul Aziz ra, khalifah termasyhur dalam Bani Umayyah, suatu kali jatuh cinta pada seorang gadis, namun istrinya Fatimah binti Abdul Malik tak pernah mengizinkannya menikah lagi. Suatu saat dikisahkan bahwa umar mengalami sakit akibat kelelahan dalam mengatur urusan pemerintahan. Fatimah pun datang membawa kejutan untuk menghibur suaminya. Ia menghadiahkan gadis yang telah lama dicintai umar, begitupun si gadis mencintai Umar. Namun Umar malah berkata:" Tidak! ini tidak boleh terjadi. Saya benar-benar tidak merubah diri saya kalau saya kembali kepada perasaan semacam itu. Umar memenangkan cinta yang lain, karena ada cinta di atas cinta. Akhirnya ia menikahkan gadis itu dengan pemuda lain. Tidak ada cinta yang mati di sini, karena sebelum meninggalkan rumah Umar, gadis itu bertanya," Umar! dulu kamu pernah mencintaiku, tapi kemanakah cinta itu sekarang?" Umar bergetar dan haru, tapi ia kemudian menjawab, " Cinta itu masih tetap ada, bahkan kini rasanya lebih...
هل من سبيل ال الخمر فاءشربها ام هل سبيل الى نصر بن حجاج انظر الى السحريجرى في نواظره وانظر الى شعرات فوق عارضه كاءنهن نمال دب فى عاجى Adakah jalan memperoleh khamr ku tegak, ataukah jalan bertemu Nashr bin Hajjaj. Lihatlah sihir yang mengalir pada tatapan-tatapannya. Dan lihatlah mata hitamnya yang berkedip tenang. Dan lihatlah rambut di atas wajahnya, bagaikan semut yang mengisi gading-gading indah. Pada suatu malam, ketika Khalifah Umar bin Khattab melakukan patroli malam untuk mengetahui kondisi rakyatnya, langkah Kholifah terhenti ketika mendengar senandung syahdu wanita dari bilik sebuah rumah. Umar terperangah mendengar senandung gadis itu. Ia belum mengenal dan melihat orang yang namanya Nashr bin Hajjaj. Nama itu masih terasa asing. Hingga akhirnya Umar mengutus orang untuk menemui Nashar bin Hajjaj. Setelah utusan Umar bertemu dengan Nashr, Nashr pun dibawa untuk bertemu dengan Umar bin Khattab. Umar yang bertemu pertama kali dengannya, memandangnya dan benar bahwa ...
Saya lupa kapan pertama kali terpikat dengan tulisan Pak DI. Bisa jadi ketika masih mondok dulu. Sesekali artikel Pak DI muncul di koran yang di akuisisi oleh JP di Jawa Timur. Biasanya saya membacanya selepas pengajian pagi, koran itu tergeletak di kantor pesantren. Kami rebutan, saya ambil halaman opini, karena kebetulan tidak terlalu punya ketertarikan mantengin gosip artis. Entah kapan juga, pertama kali bersua disway, yang pasti beberapa tahun lalu. Awalnya iseng lihat-lihat opini via mbah google, kok malah terdampar ke disway. Ternyata terdampar dan tersesat tak selamanya tersiksa, malah enjoy dan nikmat. Ibaratnya seperti bertemu cerpen kenangan Risang ayu yang ditulis berseri. Ups... balik ke kenangan lagi, tapi begitulah adanya. Saya " binged read" semua artikel Pak DI. Setiap tulisannya membuat saya kasmaran tingkat dewa. Jangan tanya kenapa saya suka, karena rasa suka itu tak bisa di jabarkan secara ilmiah hanya bisa di rasakan. Membaca tulisan Pak DI beberapa tahu...
Komentar
Posting Komentar