Postingan

8 KARAKTER MANUSIA

"Jadilah manusia yang baik dalam pandangan Allah, jadilah manusia yang buruk dalam pandangan sendiri, jadilah manusia yang biasa dalam pandangan orang lain".( Kholifah Ali bin Abi Thalib ). Nabi SAW bersabda: " Sesungguhnya Allah SWT menciptakan bani Adam dengan 8 sifat, 4 diantaranya, adalah sifat -sifat penghuni surga: yaitu wajah yang ramah, lidah yang fasih, hati yang bertaqwa, dan tangan yang dermawan,. Sedangkan, 4 sifat yang lainnya adalah sifat-sifat penghuni neraka: yaitu wajah yang masam, lidah yang kotor, hati yang keras dan tangan yang pelit "( Durratun nasihin ). Empat tanda penghuni surga, pertama wajah yang ramah. Wajah kita adalah pelangi indah yang nampak. Melalui wajah kita, akan tergambar 'aspek isoterik kita', spritualitas kita, mondialitas kita, irisan duniawi-ukhrowiyah kita, prospek management hati kita dan apapun refleksi dari ke" a-ku-an" kita sendiri. Wajah kita adalah jendela  hati kita, jiwa dan batin kita. Jika yang ...

TELADAN SEORANG GURU

Keteladanan ( uswah hasanah ) dijadikan sebagai metode dalam pendidikan Islam secara psikologi didasarkan akan fitrah manusia yang memiliki sifat gharizah ( kecenderungan mengimitasi  atau meniru orang lain ). Keteladanan merupakan perilaku seseorang yang sengaja ataupun tidak sengaja dilakukan dan dijadikan contoh bagi orang yang mengetahui atau melihatnya . Pada umumnya keteladanan ini berupa contoh tentang sifat, sikap dan perbuatan yang mengarah kepada kebaikan.. Sedangkan guru atau pendidik adalah pemimpin sejati, pembimbing dan pengarah yang bijaksana, pencetak dan tokoh pemimpin ummat. Jadi keteladanan guru yang baik adalah contoh yang baik dari guru, baik yang berhubungan dengan sikap , perilaku, tutur kata, mental, maupun yang terkait dengan akhlak dan moral yang patut dijadikan contoh peserta didik. Adalah guru yang harus mempunyai keteladanan yang lebih kepada siswanya, guru juga harus memiliki sikap, perilaku, moral yang baik, sopan santun dan bersikap baik, semua itu a...

KENANGAN DI PESANTREN

Ketika pertama kali memasuki pondok pesantren dengan sekelumit kegelisahan hati meninggalkan rumah, orang tua, dengan dunia baru, tanpa teman, tidak ada TV, handphone, serta musik yang biasa didengar di rumah tiba - tiba ada tempat yang penuh dengan hiruk pikuk pengajian, jadwal yang melebihi 24 jam, mengaji, belajar dan belajar. Semua sudah tertata rapi, pembagian kelas serta pembelajaran wajib dan sunnah menjadi pilihan semua santri dalam belajar. Menjadi santri tidaklah mudah, perlu perjuangan dan pengorbanan. Berjuang melawan rasa malas dalam menuntut ilmu dan beribadah. Mengorbankan perasaan rindu kepada orang tua. Bangun sebelum subuh, mengaji subuh, lanjut mengaji kitab dari pagi, jeda sekolah berlanjut sampai malam tiba. Setoran hafalan menjadi sesuatu yang luar biasa, bagi anak yang tak terbiasa dengan seabrek kegiatan pesantren. Semuanya menjadi sesuatu yang menyeramkan jika diceritakan kepada mereka yang tidak pernah mengenyam pendidikan pesantren. Semua rutinitas tersebut a...

MERDEKA BELAJAR DALAM PERSPEKTIF ISLAM

Dalam Islam belajar memiliki dimensi tauhid yaitu dimensi dialektika horizontal dan ketundukan vertikal. Dalam dimensi dialektika horizontal belajar dalam Islam tak berbeda belajar pada umumnya, yang tak terpisahkan dengan pengembangan sains dan tehnologi. Menggali, memahami dan mengembangkan ayat-ayat Allah SWT. Pengembangan dan pendekatannya secara lebih dalam dan dekat sebagai Rabb Al Alamin. Dalam kaitan inilah, pendidikan hati ( qalb ) sangat dituntut agar membawa manfaat  yang besar bagi ummat manusia. dan juga lingkungannya, bukan kerusakan dan kedzaliman . Dan ini merupakan perwujudan dari ketundukan vertikal.  Dalam perspektif Islam juga mencakup lingkup kognitif ( domain cognitive ), lingkup afektif ( domain afektif ) dan lingkup psikomotorik ( domain motor skill ). Tiga ranah tersebut sering diungkap dalam Islam dengan istilah ilmu alamiah, ilmu ilmiah, dalam jiwa imaniah. Dengan demikian untuk apa belajar? belajar adalah untuk memperoleh ilmu, untuk apa ilmu? untuk...

DIARY HATI

Senin, 15 Agustus jam 11.30, hatiku sungguh gembira dan bahagia . Ada yang istimewa memang , mendengar suara dan tawa renyah senior sekaligus guru. Suaranya masih tetap sama, gaya bicaranya masih sama dan tidak ada yang berubah. Bijak kata itu layak kusematkan. Seperti biasa aku mencoba mengulang kembali hafalan surah-surah pendek. Sambil mengarahkan anak-anak ke musholla untuk menunaikan shalat dzuhur berjama'ah. Al A'la dan Al-Bayyinah adalah surah pendek Al-qur'an yang paling sering ku ulangi bacaannya, entah mengapa telingaku sangat senang mendengar lantunan dua surah ini, padahal suaraku jauh  dari kata  merdu. Kalau aku sedang bernyanyi, rekan-rekanku hanya tersenyum simpul karena suaraku jauh dari ekspektasi mereka, dan aku cuek saja. Setiap satu lirik yang keluar dari mulutku, maka rekan-rekanku reflek akan mengikuti irama laguku dengan iringan tepuk tangan mereka.  Selesai shalat sambil menunggu pergantian jam, iseng kubaca dan kutambah sendiri puisi tentang pere...

NASEHATI TANPA MELUKAI

Lemah lembutlah kepada wanita, karena wanita adalah Gelas kaca dan tulang rusuk yang bengkok.... Wanita sangat identik dengan kelembutan hatinya. Hati yang lembut, membuat mereka begitu peka dan perasa. Dengan mudahnya, mereka bisa tersentuh kemudian merasakan perasaan orang di sekitarnya. Kelembutan hati wanita tidak saja membuat mereka menjadi perasa. Lebih dari itu, dengan kepekaan hatinya mereka juga jadi lebih terampil dalam memaknai segalanya.  Mengapa wanita diumpamakan sebagai tulang rusuk yang bengkok atau kaca? karena pikiran dan perilaku wanita banyak di pengaruhi oleh hormon estrogen dan progesteron, yang berubah - ubah setiap waktu. Ciri khas pikirannya adalah menemukan kasih sayang, menyayangi, menjaga, menjalin hubungan dan berkomunikasi. Wanita mengartikan ketegasan sebagai kekasaran, lalu membuatnya menjauhinya. Itulah sebabnya wanita diibaratkan dengan tulang rusuk bengkok atau kaca. Sebenarnya dengan mudah mereka diluruskan dengan cara yang lembut dan penuh perha...

PRASANGKA

Berbaik sangka membantu kita menemukan sisi positif orang lain.  Mudah sekali bagi kita menilai orang dari tampang ataupun kelakuan yang mereka miliki, padahal sifat seseorang tidak dapat dinilai hanya dari tampang dan perilaku. Bahkan karena seringnya kita menilai buruk orang lain, menjadikan kita lupa untuk bercermin dan mencari kesalahan diri. Hal tersebut membuat kita memiliki sifat egois, yang pada akhirnya dengan mudah merendahkan orang lain dan selalu berprasangka buruk terhadap mereka. Memiliki pikiran positif, kehidupan kita akan menjadi lebih baik serta bahagia. Berpikir positif akan membuat kita jauh lebih tenang, lebih terbuka dan terkadang ide baik pun akan bermunculan saat kita berpikir positif. Dengan berpikir positif terdapat beberapa manfaat. Diantaranya adalah bahagia, memiliki motivasi, kesehatan yang baik dan hubungan yang baik.  Hubungan yang lebih baik akan terwujud pada saat kita berpikir positif, cenderung tertarik atau memilih orang yang berpikiran pos...